2.3.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 2.3
Ganjar Muttaqin
CGP Angkatan 7
Paket modul 2 berisi
tentang pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan ekonomi serta diakhiri
dengan materi coaching. Materi pertama lebih berfokus kepada murid. Materi kedua
berfokus kepada masing-masing guru, murid dan antar kedua pihak sehingga
terwujudnya suatu keadaan di mana kedua pihak bisa saling berinteraksi dengan
baik. Sedangkan materi ketiga lebih berfokus pada pengembangan kemampuan guru
dalam beragam kapasitasnya namun berfokus kepada perannya sebagai coach baik
untuk murid maupun untuk pihak lain.
Pada
materi pertama tentang bagaimana mengidentifikasi beragam aspek yang terkait
dengan murid. Murid tidak hanya ditempatkan sebagai suatu kertas kosong yang
bisa ditulisi atau dilukis semau guru. Murid dilihat sebagai entitas yang
terlahir dengan keunikan masing-masing atau dalam tuturan Ki Hadjar Dewantara,
kodrat alam masing-masing. Keunikan ini akan berpengaruh kepada bagaimana
setiap murid memulai, melakukan, dan mengakhiri proses pembelajaran. Cara
belajar siswa sangat dipengaruhi dengan kodrat alam dan proses nurturing orang terdekatnya
di lingkungan rumah dan sekitarnya.
Dengan
pembelajaran berdiferensiasi ini, guru harus bisa mengajak murid mengenali
dirinya sendiri dan mengambil langkah yang sesuai. Guru dalam posisi sebagai
coach tidak memposisikan diri untuk menentukan metode belajar anak semau guru.
Guru bisa memilah metode setelah dirinya membimbing murid menyadari potensinya
dan memandu murid memilih beragam metode, materi, dan cara dia menunjukan
kemampuannya secara optimal. Guru bisa bergerak sejauh memberikan alternatif
yang bisa dipilih siswa namun tidak menentukan sejak awal pilihan tersebut
untuk dipaksakan kepada anak.
Sebagai
coach juga, guru, melalui alur TIRTA, bisa membimbing anak melakukan
pembelajaran sosial dan emosi. Melalui “Tujuan”, murid dibimbing untuk
mengenali masalah dan bersepakat tentang apa yang dibahas melalui proses
coaching (KSE Mengenali Diri). Setelah menentukan masalah yang dibahas, murid
diajak untuk mengenali potensi kekuatan dan kelemahan serta apa yang bisa
dilakukan. Kemudian murid bisa merancang tindakan yang perlu dilakukan (Rencana)
setelah mengelola emosi dan mengambil inisiatif perubahan (KSE Manajemen Diri).
Selain itu, murid dipandu untuk mengembangkan kompetensi sosialnya dengan
diajak melihat apa yang dimiliki rekannya sehingga bisa bersama mencapai
tujuannya (KSE Kesadaran Sosial). KSE Keterampilan Berelasi juga bisa dipicu
oleh guru dengan pertanyaan berbobot misalnya, “Bagaimana kamu berencana
mengkomunikasikan tujuanmu dengan baik kepada temanmu?” Terakhir, murid diajak
mengenali apa saja tanggung jawab yang harus diambil (TA) dan mengambil keputusan
yang dipikirkan masak-masak. Komitmen juga perlu dikonfirmasi dan diafirmasi
secara positif oleh guru sebagai coach agar murid bisa melaksanakan rencana
aksinya dengan baik.
Pengalaman
saya dalam melaksanakan proyek drama kabaret untuk kenaikan kelas di tahun 2016
sekilas memberikan gambaran tentang proses TIRTA dan bagaimana murid saya
berbagi tugas (berdiferensiasi) dalam mengerjakan tugasnya. Murid diberikan
tanggung jawab untuk menjalin komunikasi yang baik dengan rekan satu tim agar
tujuan bersama yaitu pertunjukan drama bisa dilaksanakan dengan baik.
Bercermin
dari pengalaman ini, saya bisa melihat bahwa saya bisa berbuat lebih baik
seandainya saya sudah mendapatkan materi tentang pembelajaran berdiferensiasi,
KSE dan coaching. Di tahun 2016, saya hanya bergerak secara intuitif untuk
mendiferensiasikan aktivitas murid dan keputusan tersebut murni atas penilaian
subyektif saya sendiri tentang karakteristik murid.
Setelah
mendapatkan materi di modul 2 ini, saya bisa melihat celah yang sebenarnya bisa
diisi di proyek tahun 2016 tersebut. Saya bisa mengadakan dialog dulu tentang
apa yang bisa dilakukan bersama. Saya bisa berdiskusi dengan arahan Bottom-Up,
bukan memberikan instruksi Top-Down kepada murid. Saya berpikir bahwa
keterlibatan murid akan lebih baik lagi jika saya sudah bisa menerapkan dengan
baik alur TIRTA dalam pembelajaran berdiferensiasi tersebut.
Sebagai
penutup, saya ingin mengatakan bahwa modul ini sangat berkesan kepada saya
karena memberikan pencerahan, penjelasan, dan utamanya penambahan/pelengkapan
atas apa yang sudah dilakukan secara intuitif di tahun 2016. Di tahun
mendatang, dengan pemahaman saya dan kemudian penerapannya dalam praktik akan
membuat pendampingan saya kepada murid akan lebih baik. Saya akan bisa
melakukan peran sebagai pemimpin pembelajaran menjadi lebih baik lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar