Kurikulum di Indonesia saat ini menekankan pada keaktifan para peserta didik untuk melakukan pembelajaran. Peran guru sekarang lebih bersifat sebagai fasilitator yang bertugas memberi jalan dan kesempatan bagi siswa untuk berkembang (Brown, 2001). Tugas guru adalah men-scaffold peserta didik untuk melampaui Zone of Proximate Development (Vygotsky, 1962). Berdasar kurikulum yang baru ini guru menyiapkan strategi dan teknik untuk membuat peserta didik bisa meningkatkan kemampuan mereka.
Terkait dengan mata pelajaran Bahasa Inggris, di dalam pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia, pembelajaran difokuskan pada empat keterampilan: menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pemisahan pemelajaran keempat keterampilan berbahasa tersebut bukanlah hal yang sebaiknya dilakukan karena pembelajaran bahasa pasti akan selalu melibatkan semua keterampilan tersebut.
Dalam rangka melaksanakan kegiatan pemelajaran yang terpadu, suatu pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning (PjBL)) bisa dilaksanakan, yaitu proyek drama kabaret. Kabaret adalah seni pertunjukkan yang di dalamnya terdapat drama dan music. Di dalam proyek kabaret yang dibuat untuk tujuan pembelajaran Bahasa Inggris tersebut, percakapan dan musik sudah terlebih dahulu direkam untuk kemudian diputar ulang selama pertunjukan.
Alasan dari perekaman ini adalah untuk membuat pertunjukan berjalan lancar tanpa gangguan lupa dialog. Kekhawatiran ini didasari alasan bahwa proyek kabaret ini akan ditampilkan di panggung acara akhir tahun. Ini adalah proyek drama musikal pertama di sekolah kami dan para peserta didik sama sekali tidak berpengalaman dalam hal pertunjukan drama di atas panggung.
Tahapan proyek ini adalah sebagai berikut:
1. menentukan pertanyaan dasar. Tahap ini diselenggarakan pada satu sesi KBM di akhir bulan Maret 2016. Di tahap ini guru dan peserta didik bersepakat untuk menentukan suatu aktivitas yang bisa melibatkan pembelajaran keempat keterampilan berbahasa. Kemudian disepakati bahwa kabaret adalah hal yang bisa dibuat dan pertunjukannya akan dilaksanakan pada saat Pentas Akhir Tahun di akhir Mei;
2. membuat desain proyek. Masih di sesi KBM yang sama disepakati desain proyek di mana drama akan dilaksanakan dan percakapan direkam terlebih dahulu untuk menghindari lupanya dialog di saat pertunjukan. Naskah yang disepakati adalah naskah yang didasari legenda lokal di Majalengka, yaitu legenda bermulanya nama Majalengka atau dalam Bahasa Inggris berjudul “The Origin of Majalengka”;
3. menyusun penjadwalan. Tahap ini diselenggarakan pada akhir jam pelajaran di hari selanjutnya. Pemilihan waktu ini adalah karena PjBL pada dasarnya adalah proses yang tidak boleh mengganggu jadwal pelajaran regular. Jadwal kemudian dibuat yang akan mencakup: (a) pembacaan naskah secara bersama-sama, (b) pembahasan alur, setting, pewatakan, dan pesan moral dalam cerita yang akan dibawakan serta property drama yang diperlukan, (c) pembahasan kosakata sulit dan cara pengucapannya yang benar, (d) pelatihan pelafalan dan kelancaran penyampaian cerita dan dialog, (e) perekaman suara para pemeran, (f) melatih olah gerak sesuai dengan rekaman suara dan musik yang sebelumnya direkam,dan (g) mempersiapkan property yang diperlukan ;
4. memonitor kemajuan proyek. Di tahap ini guru memantau kegiatan siswa dari mulai persiapan, latihan, dan persiapan akhir. Guru memberikan bantuan dan bimbingan yang diperlukan, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran keempat keterampilan berbahasa;
5. penilaian hasil. Penilaian hasil dilaksanakan saat para peserta didik tampil di panggung Pentas Akhir Tahun. Penilaian akhir hanyalah salah satu penilaian yang diperhitungkan. Penilaian proses pada saat persiapan, pelatihan, dan pelaksanaan pertunjukan mencakup bagian besar penilaian;
6. evaluasi pengalaman. Dalam tahap ini, guru dan peserta didik duduk bersama kembali untuk membahas semua hal yang dialami oleh mereka. Feedback dan refleksi adalah hal yang diharapkan dihasilkan tahapan ini.
Dari pelaksanaan kegiatan ini terobservasi bahwa keempat keterampilan berbahasa bisa dilatihkan dan diterapkan secara bersama-sama dalam proyek ini. Pertama, keterampilan, menulis, di dalam persiapan proyek, para peserta didik bersama guru menyusun naskah untuk pertunjukan dalam Bahasa Indonesia dan kemudian menuliskannya di dalam Bahasa Inggris. Pada tahap ini, guru hanya memberikan koreksi-koreksi yang dibutuhkan sambil tetap memberi keleluasaan pada peserta didik untuk mengembangkan ide cerita mereka. Keterampilan menulis menjadi terasah.
Selanjutnya, keterampilan membaca, para peserta didik di dalam tahap persiapan pertunjukan melaksanakan pembacaan naskah drama. Secara bergiliran mereka melakukan Reading Aloud di mana satu peserta didik membacakan naskah dengan suara nyaring agar peserta didik lain bisa menyimak. Pada teknik Reading Aloud, guru akan memberikan masukan tentang pelafalan dan intonasi yang tepat dengan cara yang tidak menjatuhkan peserta didik yang membaca.Masukan ini akan disimak oleh semua peserta didik. Hal ini membuat pemelajaran tentang pelafalan dan intonasi menjadi lebih bermakna dan kontekstual. Selain itu, Reading Aloud adalah efektif dan efisien karena bisa menjangkau semua peserta didik dengan cara yang ringkas.
Keterampilan ketiga dan keempat selalu harus dilaksanakan berkesinambungan. Di saat seseorang berbicara memerankan perannya, tentu ada orang lain yang menyimaknya. Bermain peran memang efektif untuk membuat peserta didik berlatih menyimak dan berbicara pada saat yang sama. Di tahap latihan untuk perekaman, unsur kefasihan dan kelancaran berbahasa menjadi fokus yang mendapatkan perhatian lebih. Hal ini disebabkan proses perekaman membutuhkan kelancaran yang berterima. Saat di panggung diharapkan semua peran memperagakan tuturannya dengan sangat lancar dan tanpa hambatan.
Pada saat hari H, semua kerja keras kami terbayar. Para peserta didik tampak percaya diri karena mereka yakin akan bisa melaksanakannya didasarkan proses persiapan yang telah mereka jalankan. Dilihat dari respon para penonton di Pentas Akhir Tahun, mereka terlihat tertarik melihat pertunjukan kabaret. Respon ini sangat menggembirakan para peserta didik. Mereka terlihat lebih percaya diri untuk melaksanakan hal yang sama. Penilaian proses dan akhir bisa dilakukan pada saat pertunjukan ini.
Tahap terakhir adalah Evaluasi atau refleksi. Para peserta didik mengungkapkan bahwa mereka sangat menikmati proses produksi kabaret ini. Bahkan mereka menyatakan ingin melaksanakan hal yang sama untuk tahun depan. Mereka tertantang untuk mempertunjukan langsung kebolehan mereka tanpa perlu direkam. Hal ini menjadi tanda bahwa motivasi bisa terbangkitkan selain tujuan utama pembelajaran keempat keterampilan yang bisa berhasil tercapai.
Praktik proyek pembuatan pertunjukan kabaret ini bisa disimpulkan merupakan satu terobosan pertama dan berhasil di sekolah kami. Pembelajaran Bahasa Inggris yang sebelumnya sangat monoton dan tergantung pada buku bacaan berubah menjadi hal yang menarik dan menantang bagi para peserta didik. Proyek pertunjukan ini bukanlah hal yang terlalu sulit. Hal ini bisa dipraktikan di sekolah lain asal ada kemauan dan tekad.