Kamis, 30 Maret 2023

2.3.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 2.3

2.3.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 2.3

Ganjar Muttaqin

CGP Angkatan 7

 

Paket modul 2 berisi tentang pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan ekonomi serta diakhiri dengan materi coaching. Materi pertama lebih berfokus kepada murid. Materi kedua berfokus kepada masing-masing guru, murid dan antar kedua pihak sehingga terwujudnya suatu keadaan di mana kedua pihak bisa saling berinteraksi dengan baik. Sedangkan materi ketiga lebih berfokus pada pengembangan kemampuan guru dalam beragam kapasitasnya namun berfokus kepada perannya sebagai coach baik untuk murid maupun untuk pihak lain.

Pada materi pertama tentang bagaimana mengidentifikasi beragam aspek yang terkait dengan murid. Murid tidak hanya ditempatkan sebagai suatu kertas kosong yang bisa ditulisi atau dilukis semau guru. Murid dilihat sebagai entitas yang terlahir dengan keunikan masing-masing atau dalam tuturan Ki Hadjar Dewantara, kodrat alam masing-masing. Keunikan ini akan berpengaruh kepada bagaimana setiap murid memulai, melakukan, dan mengakhiri proses pembelajaran. Cara belajar siswa sangat dipengaruhi dengan kodrat alam dan proses nurturing orang terdekatnya di lingkungan rumah dan sekitarnya.

Dengan pembelajaran berdiferensiasi ini, guru harus bisa mengajak murid mengenali dirinya sendiri dan mengambil langkah yang sesuai. Guru dalam posisi sebagai coach tidak memposisikan diri untuk menentukan metode belajar anak semau guru. Guru bisa memilah metode setelah dirinya membimbing murid menyadari potensinya dan memandu murid memilih beragam metode, materi, dan cara dia menunjukan kemampuannya secara optimal. Guru bisa bergerak sejauh memberikan alternatif yang bisa dipilih siswa namun tidak menentukan sejak awal pilihan tersebut untuk dipaksakan kepada anak.

Sebagai coach juga, guru, melalui alur TIRTA, bisa membimbing anak melakukan pembelajaran sosial dan emosi. Melalui “Tujuan”, murid dibimbing untuk mengenali masalah dan bersepakat tentang apa yang dibahas melalui proses coaching (KSE Mengenali Diri). Setelah menentukan masalah yang dibahas, murid diajak untuk mengenali potensi kekuatan dan kelemahan serta apa yang bisa dilakukan. Kemudian murid bisa merancang tindakan yang perlu dilakukan (Rencana) setelah mengelola emosi dan mengambil inisiatif perubahan (KSE Manajemen Diri). Selain itu, murid dipandu untuk mengembangkan kompetensi sosialnya dengan diajak melihat apa yang dimiliki rekannya sehingga bisa bersama mencapai tujuannya (KSE Kesadaran Sosial). KSE Keterampilan Berelasi juga bisa dipicu oleh guru dengan pertanyaan berbobot misalnya, “Bagaimana kamu berencana mengkomunikasikan tujuanmu dengan baik kepada temanmu?” Terakhir, murid diajak mengenali apa saja tanggung jawab yang harus diambil (TA) dan mengambil keputusan yang dipikirkan masak-masak. Komitmen juga perlu dikonfirmasi dan diafirmasi secara positif oleh guru sebagai coach agar murid bisa melaksanakan rencana aksinya dengan baik.

Pengalaman saya dalam melaksanakan proyek drama kabaret untuk kenaikan kelas di tahun 2016 sekilas memberikan gambaran tentang proses TIRTA dan bagaimana murid saya berbagi tugas (berdiferensiasi) dalam mengerjakan tugasnya. Murid diberikan tanggung jawab untuk menjalin komunikasi yang baik dengan rekan satu tim agar tujuan bersama yaitu pertunjukan drama bisa dilaksanakan dengan baik.

Bercermin dari pengalaman ini, saya bisa melihat bahwa saya bisa berbuat lebih baik seandainya saya sudah mendapatkan materi tentang pembelajaran berdiferensiasi, KSE dan coaching. Di tahun 2016, saya hanya bergerak secara intuitif untuk mendiferensiasikan aktivitas murid dan keputusan tersebut murni atas penilaian subyektif saya sendiri tentang karakteristik murid.

Setelah mendapatkan materi di modul 2 ini, saya bisa melihat celah yang sebenarnya bisa diisi di proyek tahun 2016 tersebut. Saya bisa mengadakan dialog dulu tentang apa yang bisa dilakukan bersama. Saya bisa berdiskusi dengan arahan Bottom-Up, bukan memberikan instruksi Top-Down kepada murid. Saya berpikir bahwa keterlibatan murid akan lebih baik lagi jika saya sudah bisa menerapkan dengan baik alur TIRTA dalam pembelajaran berdiferensiasi tersebut.

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa modul ini sangat berkesan kepada saya karena memberikan pencerahan, penjelasan, dan utamanya penambahan/pelengkapan atas apa yang sudah dilakukan secara intuitif di tahun 2016. Di tahun mendatang, dengan pemahaman saya dan kemudian penerapannya dalam praktik akan membuat pendampingan saya kepada murid akan lebih baik. Saya akan bisa melakukan peran sebagai pemimpin pembelajaran menjadi lebih baik lagi.