Kamis, 23 Februari 2023

 2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

(Ganjar Muttaqin, CGP Angkatan 7)

FILOSOFI KHD DAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Filosofi Ki Hadjar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai tuntunan (Kementerian Pendidikan, 5 | Sub-Module 1: Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional: Ki Hadjar Dewantara, 2022a). Guru berfungsi sebagai penuntun murid untuk mengembangkan kodrat alamnya sambil menyesuaikan cara pengajarannya dengan kodrat jaman di mana murid dan guru sedang menjalaninya (Dewantara, 1956).

Guru bukanlah pesulap yang mengubah kemampuan murid secara ajaib. Dia tidak bisa membuat murid bersikap pendiam menjadi murid yang “cerewet’ dalam satu malam. Guru harus terlebih dahulu menyadari bahwa murid mempunyai keunikannya sendiri yang disebut Ki Hadjar Dewantara sebagai Kodrat Alam dan guru harus menyesuaikan pendekatannya kepada pembelajaran anak sesuai juga dengan jaman di mana mereka berada.

Terkait dengan kodrat alam ini, saya merasa pembelajaran berdiferensiasi adalah satu pendekatan yang sangat membantu guru dalam menuntun murid dan juga memungkinkan murid untuk berkembang sesuai kodrat alamnya. Tugas guru di dalam memberikan pendidikan atau tuntunan adalah mengenali karakteristik dan kebutuhan murid masing-masing sebisa mungkin dan mengupayakan beragam tindakan dan pilihan berdasar common sense (Kementerian Pendidikan, 2022b).

Pilihan berdasar common sense ini pasti didasari oleh visi si guru. Dalam hal visi, saya mengambil contoh visi saya di bagian modul 1 yaitu “Anak didik tumbuh berkembang menuju manusia yang bermanfaat optimal sesuai kodratnya dan agamanya.” Di visi ini saya menekankan pengoptimalan kodrat murid saya. Saya menyadari bahwa adanya keragaman kodrat yang dipunyai masing-masing murid saya dan saya tidak bisa memaksa mereka berkembang secara seragam. Di bawah saya berikan ilustrasi tentang bagaimana seorang guru tidak bisa memaksakan keseragaman (gambar 1).

 



(Gambar 1.)

 (Dikutip dari https://sputniksteve.wordpress.com/2019/03/28/climb-that-tree-differentiating-differentiation/, tanggal 24 Februari 2023, pukul 14.08)

Di ilustrasi tersebut, sang penguji memaksa para binatang untuk melaksanakan ujian yang sama sebagai simbol keseragaman/keadilan. Dia tidak mengindahkan kodrat alam dari masing-masing binatang. Keseragaman di sini malah membuat ketidak-adilan.

Dengan melihat ilustrasi di atas, pembelajaran berdiferensiasi menawarkan suatu keadilan kepada murid untuk bisa mencapai potensi optimal yang ditawarkan kodratnya. Sebagai langkah awal, guru harus bisa mengenali kodrat alam muridnya dan kemudian bisa mengenali juga kebutuhan belajar sang murid.

Tomlinson (2001, dalam Kementerian Pendidikan, 2022b) menyebutkan tiga aspek yang setidaknya perlu dijadikan dasar penentuan kebutuhan murid:

1.      Kesiapan belajar murid (readiness)

2.      Minat murid

3.      Profil belajar murid

Kesiapan belajar murid bisa mencakup kondisi awal atau level pengetahuan dan keterampilan awal murid. Guru harus bisa mengenali sejauh mana modal yang dipunyai murid dalam melangkah menuju penguasaan materi. Dengan mengenali ini, guru bisa melakukan diferensiasi proses di mana guru bisa menyesuaikan proses pemerolehan pengetahuan berdasarkan kemampuan awal murid dan juga diferensiasi produk saat murid harus menunjukan penguasaan pengetahuan mereka.

Terkait minat, guru harus memahami bahwa setiap murid biasanya mempunyai minat tersendiri. Memberikan materi yang diminati murid akan membawa murid “memiliki” pembelajaran mereka sendiri. Diferensiasi konten bisa mewujudkan ini dengan memberikan materi yang disesuaikan dengan minat khas murid. Pemilihan konten tentu saja sambil tetap mempertimbangkan relevansinya dengan pembelajaran secara umum.

Terakhir adalah profil belajar murid. Ini biasanya dikaitkan dengan gaya belajar atau preferensi pribadi murid dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Guru bisa memberikan keleluasaan kepada murid untuk melakukan pembelajaran individualnya sesuai preferensi mereka. Jika murid lebih suka situasi yang tenang, dia diperbolehkan mengambil tempat di perpustakaan. Jika murid lain lebih suka berdiskusi, guru bisa memberikan keleluasan bagi dia untuk berkomunikasi sesuai cara yang baik tanpa harus mengganggu kenyamanan murid yang lain.

Kesimpulan dari hal-hal di atas adalah bahwa filosofi KHD tentang kodrat alam murid adalah sangat relevan dengan konsep pembelajaran berdiferensiasi. Kodrat anak akan lebih baik dituntun melalui pendidikan jika guru bisa membuat diferensiasi yang pas untuk membantu murid mencapai potensi optimalnya.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar