2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1
(Ganjar Muttaqin, CGP Angkatan 7)
FILOSOFI
KHD DAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Filosofi
Ki Hadjar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai tuntunan
Guru
bukanlah pesulap yang mengubah kemampuan murid secara ajaib. Dia tidak bisa
membuat murid bersikap pendiam menjadi murid yang “cerewet’ dalam satu malam. Guru
harus terlebih dahulu menyadari bahwa murid mempunyai keunikannya sendiri yang
disebut Ki Hadjar Dewantara sebagai Kodrat Alam dan guru harus menyesuaikan
pendekatannya kepada pembelajaran anak sesuai juga dengan jaman di mana mereka
berada.
Terkait
dengan kodrat alam ini, saya merasa pembelajaran berdiferensiasi adalah satu pendekatan
yang sangat membantu guru dalam menuntun murid dan juga memungkinkan murid
untuk berkembang sesuai kodrat alamnya. Tugas guru di dalam memberikan
pendidikan atau tuntunan adalah mengenali karakteristik dan kebutuhan murid
masing-masing sebisa mungkin dan mengupayakan beragam tindakan dan pilihan
berdasar common sense
Pilihan
berdasar common sense ini pasti
didasari oleh visi si guru. Dalam hal visi, saya mengambil contoh visi saya di
bagian modul 1 yaitu “Anak didik tumbuh berkembang menuju manusia yang
bermanfaat optimal sesuai kodratnya dan agamanya.” Di visi ini saya menekankan
pengoptimalan kodrat murid saya. Saya menyadari bahwa adanya keragaman kodrat
yang dipunyai masing-masing murid saya dan saya tidak bisa memaksa mereka
berkembang secara seragam. Di bawah saya berikan ilustrasi tentang bagaimana
seorang guru tidak bisa memaksakan keseragaman (gambar 1).
(Gambar
1.)
(Dikutip dari https://sputniksteve.wordpress.com/2019/03/28/climb-that-tree-differentiating-differentiation/,
tanggal 24 Februari 2023, pukul 14.08)
Di
ilustrasi tersebut, sang penguji memaksa para binatang untuk melaksanakan ujian
yang sama sebagai simbol keseragaman/keadilan. Dia tidak mengindahkan kodrat
alam dari masing-masing binatang. Keseragaman di sini malah membuat
ketidak-adilan.
Dengan
melihat ilustrasi di atas, pembelajaran berdiferensiasi menawarkan suatu
keadilan kepada murid untuk bisa mencapai potensi optimal yang ditawarkan
kodratnya. Sebagai langkah awal, guru harus bisa mengenali kodrat alam muridnya
dan kemudian bisa mengenali juga kebutuhan belajar sang murid.
Tomlinson
(2001, dalam Kementerian Pendidikan, 2022b)
menyebutkan tiga aspek yang setidaknya perlu dijadikan dasar penentuan
kebutuhan murid:
1.
Kesiapan belajar murid (readiness)
2.
Minat murid
3.
Profil belajar murid
Kesiapan belajar
murid bisa mencakup kondisi awal atau level pengetahuan dan keterampilan awal
murid. Guru harus bisa mengenali sejauh mana modal yang dipunyai murid dalam
melangkah menuju penguasaan materi. Dengan mengenali ini, guru bisa melakukan
diferensiasi proses di mana guru bisa menyesuaikan proses pemerolehan
pengetahuan berdasarkan kemampuan awal murid dan juga diferensiasi produk saat
murid harus menunjukan penguasaan pengetahuan mereka.
Terkait
minat, guru harus memahami bahwa setiap murid biasanya mempunyai minat
tersendiri. Memberikan materi yang diminati murid akan membawa murid “memiliki”
pembelajaran mereka sendiri. Diferensiasi konten bisa mewujudkan ini dengan
memberikan materi yang disesuaikan dengan minat khas murid. Pemilihan konten
tentu saja sambil tetap mempertimbangkan relevansinya dengan pembelajaran
secara umum.
Terakhir
adalah profil belajar murid. Ini biasanya dikaitkan dengan gaya belajar atau
preferensi pribadi murid dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Guru bisa
memberikan keleluasaan kepada murid untuk melakukan pembelajaran individualnya
sesuai preferensi mereka. Jika murid lebih suka situasi yang tenang, dia
diperbolehkan mengambil tempat di perpustakaan. Jika murid lain lebih suka
berdiskusi, guru bisa memberikan keleluasan bagi dia untuk berkomunikasi sesuai
cara yang baik tanpa harus mengganggu kenyamanan murid yang lain.
Kesimpulan
dari hal-hal di atas adalah bahwa filosofi KHD tentang kodrat alam murid adalah
sangat relevan dengan konsep pembelajaran berdiferensiasi. Kodrat anak akan
lebih baik dituntun melalui pendidikan jika guru bisa membuat diferensiasi yang
pas untuk membantu murid mencapai potensi optimalnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar