Bertahun lalu di satu kelas mata kuliah grammar, seorang dosen killer memandang kecewa tumpukan hasil ujian yang baru saja dinilai. Mulutnya bergetar menahan emosi. Hati dan logikanya berdebat keras.
"Kalian itu calon guru."
Beliau akhirnya berkata setelah emosinya mereda. Kalimat yang sederhana. Singkat. Jelas. Pernyataan. Namun itu secara tata bahasa.
Kami menundukkan kepala dengan rasa malu. Bukan hanya pada Pak Soeratno namun juga malu kepada diri sendiri dan kepongahan diri menganggap nanti pantas disebut guru.
"Anak didik seperti apa yang akan kalian hasilkan jika kalian masih seperti ini?" Lirih beliau melanjutkan. Pelan namun jelas terdengar. Kelas memang sangat hening saat itu. Tak ada lagi gelak tawa dan candaan khas mahasiswa semester 2 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang katanya elit itu.
"Guru seharusnya menurunkan ilmunya sebanyak yang dia bisa. Saya tanya sekarang. Berapa banyak ilmu yang bisa kalian berikan kepada anak didik kalian yang menganggap kalian seseorang yang digugu dan ditiru?"
Kami tidak berani menaikan pandangan. Namun di dalam hati, kami tertampar sangat keras dan jatuh ke dalam rasa berdosa.
"Maukah kalian memperbaiki diri agar anak didik kalian bisa mendapatkan yang terbaik dari kalian? Bisakah kalian berhenti merasa puas dan membuat layak kalian disebut guru? Kalian bisa. Hanya saja entahlah. Pikirkan anak didik kalian nanti."
Berucap beliau serasa membereskan materi kuliah dan melangkah keluar kelas. Kertas hasil ujian tengah semester beliau tinggalkan di atas meja dosen.
Selama beberapa menit setelah beliau meninggalkan kelas, satu per satu kami mengambil hasil ujian kami. Tak ada satupun dari kami yang mencapai nilai 70 dari 100 yang bisa diraih.
"Kalian itu calon guru."
Kalimat ini terngiang kembali dan menusuk hati. Sederhana secara tata bahasa namun secara semantik, kalimat ini bermakna dalam.
Guru harus memastikan anak didiknya mendapatkan materi ajar yang layak, metode ajar yang sesuai untuk mereka, kemampuan memberikan umpan balik yang baik dan guru yang menguasai betul apa yang diajarkannya.
Jika kami hanya mampu menguasai materi ajar setara nilai 60 dari 100, seberapa kualitas anak didik yang akan kami hasilkan?
Jika kami salah menuliskan kalimat dan kemudian anak didik kami yakin itu benar karena kami merasa benar, apa pertanggungjawaban kami nanti?
Tanpa canda tawa, kami meninggalkan kelas merasa kalah. Bukan kalah pada ujian, namun kalah kepada kepuasan kami pada kemampuan kami yang sebenarnya bisa meningkat. Kalah pada keinginan kami bermain ke Malioboro atau Parangtritis saat kami harusnya mempersiapkan diri untuk ujian. Kalah atas optimisme kami bahwa kami akan berhasil menjadi PNS karena kami dibutuhkan, sekalipun nilai kami pas-pasan.
Duapuluh tahun kemudian.
Seorang mahasiswa di kelas itu berdiri di panggung tingkat nasional. Seorang guru yang mewakili kabupaten dan provinsinya di suatu ajang. Meraih medali tingkat nasional.
Namun, ucapan sang dosen tetap terngiang. Yang diraihnya di hari itu adalah hasil dari "cambukan" beliau. Sejak hari itu dua puluh tahun lalu, dia tidak pernah melihat bangga dan puas atas nilai 643 yang diraihnya, namun dia akan melihat 34 nilai sisanya yang seharusnya dia bisa dapatkan. Dia melihat di bagian mana dia harus memperbaiki diri.
Dia harus memperbaiki diri agar bisa memberikan yang terbaik bagi anak didiknya. Terbaik yang harus diberikan. Bukan terbaik yang bisa dia berikan karena terkadang yang terbaik yang bisa diberikan hanyalah 60 persen dari 100% yang seharusnya.
Barokallah atas karya tulisnya, kenangan yang sangat menginspirasi dan memberikan ibroh luar biasa hingga mahasiswa ini menjadi terbaik di kancaj nasional..bravo bro ganjar
BalasHapus