Aku tak suka tatapan mereka yang membuatku tidak tahu harus berbuat apa. Langkahku selalu diikuti mata-mata terpesona yang meneliti setiap bagian tubuhku. Bukankah mata mereka harusnya untuk mahram mereka? Sungguh melelahkan.
Belum lagi tatapan sinis pasangan para pria itu. Pandangan mata mereka seakan ingin mengupas seluruh bagian tubuhku dan menjadikan kulitku sebagai panji kemenangan mereka karena telah membuatku tak indah lagi. Bukankah mereka seharusnya memberi obat mata paling perih yang mereka bisa beli dan meneteskannya ke mata para pasangan mereka? Sungguh mengesalkan. Terlebih setelah kedua orang tuaku wafat akibat kecelakaan 3 tahun lalu.
Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian namun beginilah aku tercipta oleh-Nya. Aku ingin mensyukuri nikmat-Nya tanpa harus membuat orang lain berdosa. Aku ingin berjalan ke tempat di mana aku mempunyai hak di dalamnya. Ya, aku ingin pergi ke sekolah tempatku mengajar tanpa harus mengkhawatirkan apapun. Tak sabar rasanya menunggu datangnya Aa Deden seusai menyelesaikan tugas belajar S3-nya di luar negeri.
Semoga hari ini aku bisa mengajar dengan tenang tanpa terganggu pandangan mereka. Diiringi alunan adzan Subuh Aki Tatang di Mushala Arrohim yang mendayu dan memelas, aku bangkit dari kasur meninggalkan lamunanku dan menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan badan dan jiwaku dengan bersuci. Setelah itu, serangkaian kegiatan rutin pagi sendirian aku kerjakan sampai tiba waktu dimulainya siksaan sejak langkah pertamaku dari rumah menuju sekolah.
“Aduh, Neng Ani, udah cantik banget. Mau ngajar ya?”
Bi Oneng berbasa-basi padaku sambil matanya melirik ke jendela rumahnya untuk mengecek jikalau Mang Ohid mengintip di balik kaca.
“Iya, Bi. Permisi Bi,” jawabku sambil buru-buru melangkahkan kaki saat sekelebat kulihat Mang Ohid di balik tirai jendela.
Pertigaan jalan raya masih 10 meter lagi jaraknya. Para tukang ojek rupanya sudah hapal jadwal keberangkatanku ke sekolah karena terlihat mereka siap menyambut kedatanganku dengan cengiran penuh harap mereka agar aku menggunakan jasa mereka. Mereka seakan selalu melupakan bahwa sekolahku itu hanya 50 meter jaraknya dari pertigaan tersebut.
“Ojek, Neng?” sapa Kang Aceng dengan genit. Kang Dadang tak mau kalah berkata,
”Sama Akang aja, Neng. Gratis deh.”
“Enggak, Kang. Sudah dekat kok,” tolakku halus sambil berlalu berbelok kanan. Punggungku terasa panas karena aku tahu pasti pandangan mereka sedang terpusat pada diriku. Jalanku semakin cepat seakan ada sesuatu yang mengejarku.
Akhirnya gerbang sekolah terlihat dan di depan gerbang Abah Sayid berdiri gagah dalam usia rentanya seperti biasa. Beliau adalah penjaga sekolah. Hanya beliaulah yang selalu bisa aku percaya dan yakin akan menjagaku. Beliau adalah sahabat almarhum ayahku dan bersama Ma Dedeh menjadikanku sebagai anak sendiri.
Namun, hari ini senyumnya saat menyapaku agak berbeda. Terasa ada kebahagiaan yang lebih di dalamnya.
“Assalamu ‘alaikum. Sehat Neng?” katanya.
“Wa ‘alaikum salam. Sehat, Bah. Abah sama Ema gimana?” jawabku sambil membalas senyumnya.
Beliau menjawab, “Alhamdulillah, sehat. Ema di kantin tuh, lagi semangat buat goreng pisang kesukaanmu dan ...”
Kalimat itu terpotong dengan satu senyuman misterius. Ya. Aku tahu maksudnya. Pisang goreng adalah makanan favoritku dan Aa Deden. Beliau tidak melanjutkan karena tahu akan mengingatkanku padanya yang nun jauh di luar negeri.
Setelah berbasa-basi sedikit, aku memasuki bangunan sekolah dan menuju ruang guru. Di sepanjang koridor aku bertemu berpapasan dengan sejumlah guru dan saling bertukar sapa. Namun, ada yang berbeda dari sikap para guru pria yang biasanya menunjukkan rasa kagumnya padaku meskipun tidak segenit pria-pria lain di kampungku. Mereka hanya tersenyum tipis misterius seperti halnya Abah Sayid tadi. Para guru perempuan para sahabatku juga seakan menyembunyikan sesuatu. Ada apa ini?
Saat melangkah masuk ruang guru, aku tertegun. Ada seseorang duduk di kursi tamu membelakangiku sedang berhadapan dengan bapak kepala sekolah. Detak jantungku mendadak bertambah cepat. Aku sangat mengenal bentuk bahu itu. Tapi mungkinkah?
Aku melangkah perlahan mendekati sang pemilik punggung. Tak kupedulikan guru-guru yang sedang duduk di tempat mereka. Entah apa yang mereka lakukan.Pandanganku hanya tertuju pada orang yang duduk tersebut. Aku kenal betul rambut lurus rapi itu. Mungkinkah?
Bapak kepala sekolah menatapku dengan senyum hangat. “Assalamu ‘alaikum, Bu Ani,” beliau menyapaku.
Orang tersebut memalingkan wajahnya untuk melihatku dan tersenyum.
“Masya Allah,” ucapku tanpa sadar. Senyum itu selalu membuatku terasa aman dan tenang. Senyum itulah yang ingin selalu aku lihat di saat bangun, di sepanjang hari, dan sampai aku menutup mataku untuk terlelap di akhir hari.
Ya, dia yang selalu aku tunggu akhirnya hadir di hadapanku. Lelaki yang ingin menjadikan aku muhrimnya, ibu anak-anaknya, nenek dari cucu-cucunya. Dialah lelaki yang aku harapkan masuk bersamaku ke surga yang abadi.
Dia sudah menyelesaikan tugas belajarnya dan dia berhasil mempersingkat pendidikannya karena ingin segera mewujudkan impian kami bersama. Kami bermimpi akan menciptakan keluarga Sakinah Mawadah Warahmah. Insya Allah waktu itu telah datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar